Dawet AYU Banjarnegara, Legenda Serayu yang Tak Lekang oleh Waktu

dawet-ayu-khas-banjarnegara

Dawet AYU Banjarnegara semakin merajalela J mereka laksana air bah yang terus bergerak masif merambah area per area.

Makin lama, area yang jangkau makan luas dan Dawet ayu Banjarnegara semakin terkenal seantero penjuru negeri.

Dan area tempat tinggalku pun tak luput dari pergerakan masif dawet ayu Banjarnegara.

Tak kalah dengan cyber army yang selalu mengintai KONSPIRASI GLOBAL dunia maya, penjual-penjual dawet ayu pun terus bergerak memasarkan dagangannya dari satu daerah ke daerah lain.

Kalau kita mengenal Cina Perantauan, maka mirip-mirip juga gerakan masif penjual dawet ayu, yang suatu saat bisa membentuk Banjarnegara Perantauan.

Saat ketemu salah satu penjual di sekitar lingkunganku, Dawet yang terkenal dengan ciri khas lapak penjualaannya ada ‘punokawan wayang’ Petruk, Gareng, Bagong (Bawor) dan Semar ini sedang melayani pembeli yang berjubel.

Penasaran dan ingin tahu dengan apa yang sedang terjadi, akhirnya aku menghentikan sepeda bututku dan bergegas menuju keramaian.

“ Kang, pesan satu porsi ya”

“Iya Pak, ditunggu ya”

“Oke”

Setelah beberapa saat, seporsi dawet ayu pun sudah terhidang di meja dan siap untuk dinikmati. Aroma NANGKAnya begitu terasa dan menggugah selera.

Apalagi suasana panas yang menyengat, semakin menambah selera untuk segera menikmati minuman segar ini.

“Sruppp”

Langsung aku cicipi sesendok dawet, dan langsung terasa segar di tenggorokan.

Dan tak terasa, segelas dawet ayu ludes dan hanya tersisa gelas kosong beserta sendoknya…

“wah rakus banget nih orang” barangkali ada yang berkata dalam hati.

“gak sih, lah memang suegeeer banget je’